Wednesday, December 5, 2018

Suami Inneke Koesherawati Punya "Bilik Asmara" untuk Bercinta di Lapas Sukamiskin





INDOVIRAL365 - Narapidana kasus korupsi proyek Bakamla, Fahmi Darmawansyah ternyata mempunyai "bilik asmara" di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Ya, suami Inneke Koesherawati itu sengaja membangun bilik asmara untuk melakukan hubungan intim sebagaimana halnya pasangan suami istri.

Fakta itu terungkap dalam surat dakwaan mantan Kepala Lapas Sukamiskin, Wahid Husen yang dibacakan oleh Jaksa KPK di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) PN Bandung, Rabu (5/12/2018).

"Fahmi Darmawansyah membangun ruangan berukuran 2x3 meter persegi yang dilengkapi dengan tempat tidur untuk keperluan melakukan hubungan badan suami istri," tulis surat dakwaan KPK seperti yang dikutip Indoviral

Berdasarkan surat dakwaan, bilik asmara yang dibangun itu digunakan Fahmi untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Ia juga disebut menyewakan bilik asmara tersebut kepada warga binaan lainnya.

"Dipergunakan Fahmi saat dikunjungi istrinya maupun disewakan kepada warga binaan lain," tulis dakwaan tersebut.

Bilik asmara itu disewakan oleh Fahmi kepada warga binaan lain dengan tarif sekitar Rp650 ribu. ‎Tak hanya bilik asmara, ruang tahanan Fahmi juga dilengkapi berbagai fasilitas mewah seperti televisi, pendingin ruangan (AC), kulkas dan tempat tidur spring bed.

"Fahmi juga diperbolehkan menggunakan telefon genggam (HP) selama di dalam lapas," sambungnya.

‎Dalam perkara ini, mantan Kalapas Sukamiskin, Wahid Husen dan anak buahnya yang merupakan PNS Lapas Sukamiskin, Hendry Saputra didakwa bersama-sama menerima suap dari tiga narapidana kasus korupsi. Ketiga narapidana yang diduga menyuap Wahid Husen yaitu Fahmi Darmawansyah, Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan, serta Fuad Amin Imron.

Wahid Husen didakwa menerima satu unit mobil jenis double cabin 4x4 merk Mitsubishi Triton, sepasang sepatu boot, sepasang sandal merk Kenzo, satu tas clutch bag merk Louis Vuitton dan uang senilai Rp39.500.000 dari Fahmi Darmawansyah.

Kemudian, Wahid juga menerima uang dari Wawan sejumlah Rp63.390.000. Sedangkan dari Fuad Amin, ia menerima uang sebesar Rp71.000.000 dan mendapat fasilitas peminjaman mobil ‎serta penginapan di Hotel Ciputra, Surabaya.

Sejumlah uang suap tersebut diberikan tiga para narapidana melalui Hendry Saputra. Uang itu bertujuan agar para narapidana mendapatkan fasilitas istimewa selama menjalani masa hukuman di Lapas Sukamiskin.

Atas perbuatannya, Wahid Husen dan Hendry Saputra didakwa melanggar Pasal 12 huruf b dan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

0 komentar:

Post a Comment