Friday, October 12, 2018

INDOVIRAL365 - Menanti Sulteng Bangkit Kembali Usai Gempa dan Tsunami



Indoviral365 - Perlahan tapi pasti, lampu penerangan jalan di Kota Palu, Donggala, Sigi, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mulai menyala. Meski temaram, cahaya itu perlahan mengobati hati masyarakat yang remuk redam pasca dihantam bencana gempa dan tsunami. Geliat ekonomi pun mulai hidup. Pertanda kebangkitan mulai terasa.

Kepala Sub Satgas Pendampingan Pusat Bencana Sulawesi Tengah Kemenko Polhukam, Laksda TNI Achmad Djamaludin, mengatakan, infrastruktur kelistrikan di wilayah terdampak sudah pulih 90%. Sementara, jaringan telekomunikasi hampir pulih 100%.

"Air bersih juga sudah mulai pulih baik dengan pembuatan sumur bor, hidran, peralatan water treatment maupun tanki air minum," kata Djamaludin saat dihubungi

Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo yang disusul tsunami di Sulteng juga memporak-porandakan stasiun pengisian bahan bakar minyak (BBM). Namun, saat masa tanggap darurat, kondisinya sudah perlahan membaik. Sedikit-demi sedikit pasokan BBM mulai masuk ke wilayah bencana pasca recovery infrastruktur transportasi udara, laut dan udara.

"BBM juga normal, SPBU sudah beroperasi bahkan ada yang buka 24 jam, cadangan premium, solar, avtur dan LPG cukup untuj 3-6 hari ke depan dan terus ditambah," ucap Deputi Bidang Koordinasi Pertahanan Negara (Bidkor Hanneg) Kemenko Polhukam itu.

Pertanda kebangkitan di Sulawesi Tengah semakin terasa tatkala beberapa sekolah sudah mulai dibuka dan akan disiapkan kelas-kelas darurat untuk para peserta didik. Sejurus dengan itu, perbaikan jalan dan jembatan terus dikebut agar jalur distribusi logistik semakin baik. Pemerintah Daerah (Pemda) pun sudah menyiapkan hunian sementara (huntara) untuk para pengungsi.

Sekira 2.000 lebih nyawa manusia bergelimpangan akibat bencana yang menerjang Sulteng pada Jumat, 28 September 2018 lalu. Mereka yang meregang nyawa telah dikuburkan secara massal oleh pemerintah. Pun demikian, ada juga jenazah yang diambil pihak keluarga untuk kemudian dimakamkan secara mandiri.

Yang lebih menyedihkan lagi, per 10 Oktober 2018, korban hilang akibat bencana mencapai 671 orang, korban luka 10.679 orang, jumlah pengungsi 82.775 orang, rumah warga yang rusak berjumlah 67.310 unit. Data ini bersifat dinamis karena proses pencarian korban atau evakuasi masih terus berlangsung. Sedianya, penghentian pencarian korban bakal dilakukan pada 11 Oktober 2018.

Keputusan penghentian pencarian korban yang jatuh pada 11 Oktober diambil oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), selaku pemimpin penanganan korban gempa dan tsunami Sulteng yang ditunjuk Presiden Joko Widodo.

JK beserta stakeholder terkait seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan SAR Nasional (Basarnas), menganggap korban yang diduga masih tertimbun sulit untuk dikenali dan berpotensi membawa penyakit bagi warga yang masih hidup.

Karena itu, penghentian pencarian korhan diputuskan berhenti pada 11 Oktober. Namun demikian, meski pencarian korban dihentikan, masa tanggap darurat bencana diteruskan hingga akhir Oktober 2018.

"Saat ini masa tanggap darurat masih berlangsung, hanya evakuasi korban dihentikan pada 11 Oktober 2018. Layanan kebutuhan dasar bagi pengungsi, layanan kesehatan, distribusi logistik, sekolah darurat, pembangunan huntara, dan lainnya dilanjutkan hingga akhir Oktober 2018," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Untuk mempercepat proses pemulihan Sulteng, sebanyak 10.875 personel telah bersiaga di seluruh wilayah terdampak. Mereka terdiri dari TNI 7.107 orang, Polri 2.208 orang, dan sipil 1.560 orang. Sementara itu, pelayanan medis sudah bekerja dengan baik. 50 unit puskesmas sudah berfungsi, 1.793 orang pelayan kesehatan pun telah bertugas di lapangan.

Sentra perekonomian yang melayani kebutuhan masyarakat juga telah berfungsi, seperti pasar tradisional dan swalayan. Demikian pula dengan layanan perbankan sudah mulai beroperasi. Selebihnya, kantor-kantor pemerintahan daerah yang melayani masyarakat telah beroperasi. Hal tersebut juga mendapat support dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Setelah masa tanggap darurat berakhir pada akhir Oktober 2018, maka akan dilanjutkan dengan rehabilitasi dan rekonstruksi pada awal November 2018. Hal tersebut telah sesuai dengan arahan dari Wapres JK demi mempercepat proses pemulihan Sulteng.

0 komentar:

Post a Comment