Friday, June 1, 2018

Serunya mengintip penyu bertelur malam-malam di Pantai Boom Banyuwangi



INDOVIRAL365.COM -
Seekor penyu berjalan di Pantai Boom, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, meninggalkan jejak-jejak bekas tungkai yang memanjang di atas pasir. Penyu jenis lekang sepanjang 69 sentimeter itu berkeliling pantai, menghindari sampah, memilih pasir yang cukup lembut, lalu menggali lubang sedalam 39 sentimeter untuk bertelur.

Kepada Merdeka Banyuwangi, pendiri Yayasan Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF) Wiyanto Haditanojo mengatakan sebelum bertelur, penyu tidak boleh didekati. Saat merasa terganggu, dia akan kembali ke laut dan batal mengubur telurnya di pantai.

Penyu tidak suka keramaian dan tidak suka cahaya yang terlalu terang. Penyu bisa didekati, bahkan disentuh setelah mengeluarkan telur pertama ke lubang sarang. "Kalau sudah (bertelur) gini dia pasrah, kamu pegang juga diam saja," kata pria yang kerap disapa Wiwit itu, Sabtu (19/5).

Saat dilihat dari dekat, penyu hanya diam, bahkan tungkai yang paling aktif jadi tidak banyak bergerak. Air terlihat membasahi bagian bawah matanya dan membentuk garis basah. Suara dengusan keluar pula jika kepalanya didekati, saat dia berjuang mengeluarkan 100 hingga 140 butir sekali bertelur.

Lubang sarang yang telah digalinya tak nampak, tertutup tubuhnya yang bertempurung. Namun saat digali terowongan kecil dari belakang, bisa diintip satu per satu telur berbentuk bulat berwarna putih tulang jatuh ke lubang sarang.

Penyu Lekang itu mulai bertelur pukul 23.50 WIB dan selesai pukul 00.03 WIB. Setelah menimbun kembali sarang telurnya dia berkeliling sebentar, lalu berbalik arah menuju debur ombak Selat Bali. Berbeda dengan ketika dia naik, saat kembali ke pantai dia merangkak tertatih-tatih dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Namun lajunya semakin cepat ketika telah bertemu air laut.

Relawan BSTF kemudian menggali lubang sarang yang ditinggalkannya, dan mengambil telurnya untuk ditetaskan di penangkaran. Aksi itu sebagai upaya menjaga telur penyu dari aksi penjarahan dan penjualan. Padahal penyu termasuk hewan yang dilindungi.

Segera setelah menetas, bayi penyu atau tukik akan dilepas ke pantai agar mereka kembali untuk bertelur di Pantai Boom saat dewasa kelak.

Jumlah penyu terus berkurang

Wiwit tidak tahu berapa jumlah penyu yang masih hidup di laut, namun berdasar pengamatannya sekarang ada pengurangan jumlah. Tahun 1985 dia menyaksikan sendiri banyak tukik tertangkap pencari nener (anak ikan Bandeng) atau terjerat jaring rawe nelayan Pantai Boom, yakni jaringan lebar yang ditarik dari laut ke tepi pantai.

Namun tahun 2000, tidak pernah lagi dijumpainya tukik tertangkap nelayan. "Di seluruh pantai di Banyuwangi banyak penyu bertelur, tahun 90-an masih banyak. Terus kok tambah tahun tambah kurang," kata Wiwit lagi.

Dari keprihatinan itu dia membangun BSTF pada 2011 untuk menangkarkan telur penyu dan mengembalikannya ke laut setelah menetas. BSTF didukung 40 orang relawan di Pantai Solong, Cacalan, Boom, Pulau Santen hingga Pantai Sobo Banyuwangi, serta nelayan-nelayan yang mengabarinya saat ada penyu yang naik untuk bertelur.

Tahun 2017 mereka berhasil menangkarkan 13.621 butir telur dari 141 sarang penyu. Tukik yang berhasil dikeluarkan dan dikembalikan ke laut kira-kira 70 persennya. Sedangkan sejak pertengahan Maret 2018 hingga kini lebih dari 40 sarang yang telah ditemukan dan ditangkarkan telurnya.

Dia mengatakan kesadaran para nelayan di Banyuwangi juga semakin meningkat. Saat tak sengaja menangkap penyu mereka akan menyerahkannya ke BSTF atau penangkaran lain untuk diselamatkan.

Salah satu relawan bernama Didik (55) mengatakan dulu telur penyu dijual warga ke Pasar Banyuwangi seharga Rp 2.500 per butir. Oleh masyarakat saat itu telur penyu dijadikan sebagai peningkat stamina pria. Namun kini tidak lagi, masyarakat tidak menjual-belikan telur penyu dan telah memahami semangat konservasi alam.

Dia mengatakan penyu akan datang ke Pantai Boom dari pukul 19.00 WIB hingga subuh. Siang sebelumnya penyu biasa terlihat berada di air memantau kondisi pasir pantai. "Biasanya kalau mau bertelur penyu berkeliaran, untuk melihat lokasi," katanya.

Dia mengatakan meskipun jarang, masih didapati jaring nelayan tidak sengaja menjerat penyu. Alat tangkap yang mengenai penyu biasanya pancing dasar atau jaring dasar ukuran 4 inch. Dia mengatakan alat-alat itu sebaiknya dihindari agar tidak menyasar ke penyu yang bisa melukai atau membunuhnya.

0 komentar:

Post a Comment