Monday, June 4, 2018

Pilot Garuda Dipastikan Tidak Mogok pada Puncak Arus Mudik Lebaran

INDOVIRAL365.COM - Serikat Karyawan dan Asosiasi Pilot Garuda Indonesia tetap mengancam akan melakukan aksi mogok kerja pada 19 Juni nanti apabila tuntutan mereka tidak ditanggapi positif oleh pemerintah dan komisaris Garuda.Dengan demikian tidak akan mengganggu masa-masa puncak penerbangan saat liburan lebaran.
Sempat diberitakan bahwa ancaman mogok pilot Garuda itu akan digelar bertepatan dengan Hari Idul Fitri, yaitu kemungkinan tanggal 15 dan 16 Juni, tetapi kemudian diluruskan oleh Asosiasi Pilot Garuda Indonesia (APG) dan Serikat Karyawan Garuda Indonesia (Sekarga).

"Kami tidak pernah mengatakan akan mogok menjelang, mendekati atau saat lebaran. Perkiraan yang kita berikan itu tanggal 19 Juni. Jadi, kalau ada suara-suara bahwa kami tidak memikirkan penumpang itu salah besar," kata Presiden APG Kapten Bintang Handono, kepada BBC News Indonesia, Senin (4/6/2018).
Sementara itu pimpinan Garuda mengatakan masih merundingkan tuntutan para pilot, tetapi menegaskan tidak semua tuntutan bisa direalisasikan.
Sejak tahun lalu, perwakilan pilot dan serikat pekerja Garuda mengaku telah mengajukan tuntutan perbaikan manajemen Garuda, tetapi menurut Bintang, pihak pimpinan tidak mendengarkannya.
Dan akhirnya, awal Mei lalu, APG dan Sekarga menggelar jumpa pers yang isinya mengancam melakukan aksi mogok kerja apabila tuntutan mereka, -antara lain tuntutan pergantian direksi Garuda diganti- tidak diwujudkan.
"Kita menunggu 30 hari kerja (dengan tenggang waktu 19 Juni) untuk mendapat tanggapan dari pemerintah dan atau pemegang saham," ungkap Bintang.
Bintang Handono dan rekan-rekannya menganggap keberadaan direksi baru sebagai penyebab apa yang mereka sebut sebagai 'mismanajemen' dalam tubuh maskapai BUMN itu.
Mereka berharap tuntutan tersebut disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham, RUPS, pada April 2017, yang kemudian memutuskan pencopotan Arif Wibowo dan menunjuk Pahala Mansury sebagai Dirut Garuda Indonesia yang baru.
"Akan tetapi ternyata posisi-posisi (direksi lainnya) masih orang lama yang sebenarnya kita sudah kurang percaya," kata Bintang.
Selain itu dia juga mempertanyakan penghapusan posisi direktur operasi dan teknik. "Tidak ada direktur operasi dan direktur teknik berarti tidak ada penanggung jawab dalam audit Airport Operating Certificate (AOC)."
Belakangan perusahaan mengangkat direktur operasi dan direktur teknik namun tidak dilakukan melalui mekanisme RUPS, seperti yang diharapkan para karyawan.
Dalam tuntutannya, Bintang juga mempertanyakan sejumlah dewan direksi Garuda yang latar belakangnya bukan dari dunia penerbangan, melainkan dari perbankan.
Sejumlah kebijakan seperti peniadaan kendaraan jemputan bagi pilot dan kru kabin, pemotongan jam terbang pilot, serta peniadaan kenaikan gaji berkala tiap tahun, menjadi alasan ancaman mogok APG.
Dan perubahan kebijakan tersebut dianggap berpengaruh pada pelayanan kepada konsumen, seperti tertulis dalam keterangan resmi APG, "Delay (penundaan) dan Cancel Flight (pembatalan penerbangan) sudah bukan menjadi hal yang baru bagi kita."

0 komentar:

Post a Comment