Sunday, May 6, 2018

Camat Gamping soal pelari wanita diadang warga: Tak hormati aturan lokal



INDOVIRAL365 - Video seorang pelari perempuan yang dihadang oleh warga karena dianggap menggunakan pakaian yang tidak sopan, menjadi viral di media sosial.


Kejadian yang terekam di video itu berdasarkan penelusuran Merdeka.com terjadi di Dusun Mlangi, Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman saat acara 5K Universitas Aisyiyah (Unisa) Running 2018 pada Selasa (1/5) yang lalu. Acara itu merupakan rangkaian acara dari peringatan Milad ke 27 Unisa Yogyakarta.


Menanggapi viralnya video tersebut, Kepala Kecamatan (Camat) Gamping, Kabupaten Sleman, Abu Bakar mengatakan bahwa pihak panitia ataupun penyelenggara acara tidak memahami aturan lokal yang ada di Dusun Mlangi. Sebab, kata Abu Bakar, wilayah Mlangi selama ini dikenal sebagai wilayah santri.

"Panitia atau EO-nya yang tidak paham. Tidak menghormati aturan lokal di Mlangi. Di Mlangi merupakan pusat pesantren. Banyak santri yang belajar. Selain wilayah Mlangi, daerah Pundung, Cambahan, dan Nogotirto merupakan daerah santri," ujar Abu Bakar saat dikonfirmasi wartawan melalui pesan Whatsapp, Sabtu (5/5).


Abu Bakar menyampaikan pihak penyelenggara seharusnya bisa melakukan koordinasi dengan aparat di wilayah sebelum menggelar acara. Sehingga nantinya tak ada aturan lokal yang dilanggar saat penyelenggaraan acara.



"Saya dukung kalau ada lomba maraton. Di Gamping banyak yang bagus, kemarin juga ada lomba lari lintas alam. Imbauan saya kepada panitia atau penyelenggara jika ada even harus menghormati aturan adat setempat. Serta juga berkoordinasi dengan kades, camat serta muspika," saran Abu Bakar.


Ditemui terpisah, Ketua Milad ke 27 Unisa Yogyakarta, Ruhiyana mengungkapkan bahwa acara 5K Unisa Running 2018 sudah sesuai dengan prosedur yang ada. Pihak panitia, kata Ruhiyana melakukan kerjasama dengan induk olahraga atletik yaitu Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) DIY.


"Sebenarnya kami berpikiran sesuai standar. Aturan mainnya sesuai PASI. Pakaian yang dikenakan para pelari juga sesuai standar kenyamanan mereka dalam berlari," papar Ruhiyana di kampus Unisa Yogyakarta, Minggu (6/5).

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Unisa Yogyakarta ini bahwa permasalahan yang terjadi saat acara itu sudah diselesaikan dengan mediasi antara panitia dengan tokoh-tokoh masyarakat di Mlangi. Pihak pelari perempuan yang menjadi korban penghadangan juga tidak memermasalahkan hal itu.


Ruhiyana menambahkan selain penghadangan ada juga peristiwa pemukulan yang terjadi saat itu. Pelari perempuan, sambung Ruhiyana sempat dipukul di bagian anggota tubuh tertentu. Selain itu seorang pelari rekan pelari perempuan juga sempat dipukul dibagian wajah saat membela pelari perempuan.


"Pelari perempuan sempat dipukul. Pelari lain laki-laki sempat kena tonjok di wajah. Tapi kami sudah mediasi. Kedua pelari tidak memermasalahkan. Kami anggap sudah selesai (permasalahan penghadangan pelari perempuan oleh warga karena dianggap pakaiannya tidak sopan)," tutup Ruhiyana.

0 komentar:

Post a Comment